Perjalananku Melawan TBC Kelenjar. Aku Pasti Bisa Selamat dari Penyakit Ini!


lulus pengobatan TBC!

Alhamdulillah tanggal 17 September 2018 kemarin aku resmi telah menyelesaikan pengobatan TBC kelenjar yang aku alami selama 6 bulan lebih beberapa minggu (sepertinya). Waktu itu aku menjelaskan sdikit mengenai TB di snapgram dan aku janji mau membahas pengalamanku di blog. Maka setelah tertunda beberapa lama karena kesibukan dalam aktivitas, here's the story!

Bulan maret

Tiba-tiba muncul benjolan berukuran sedang di sekitar rahang dalam yang menyatu dengan leher sebelah kiri. Awalnya aku merasa bodo amat. Tapi lama kelamaan aku agak terganggu juga dan jadi penasaran kenapa ada benjolan disitu.

Tanggal 7 maret aku pergi ke RSI jemursari untuk memeriksakan bendolan itu. Aku pas itu ke dokter THT. Setelah diperiksa, menurut dokternya ini karena ada kuman gitu dan bisa sembuh setelah dikasih obat yang dikasih sama dia. Katanya sambil dikompresin pakai air dingin. Ada 3 jenis obat yang kuminum. Tapi enggak kunjung sembuh dan malah membesar (menurutku).

obat dari dokter THT. abaikan dua obat warna kuning dan merah yak

mengompres bendolan

ukuran bendolan

Tanggal 15 maret aku memutuskan periksa ke RSAL sama mama dan papa. Kita tetap pergi ke dokter THT. Setelah diperiksa, dokter menyarankan untuk dibiopsi saja (diambil sedikit isi benjolannya) supaya tahu penyakit apa yang menyebabkan bendol itu.

makin besar dan menyebar

Rasanya biopsi? ya kayak disuntik tapi kek disedot gitu. Saking takutnya sama jarum suntik, selepas keluar ruangan rasanya pengen pingsan. Keringat dingin, pandangan gelap dan mau muntah (hehehe). hasilnya sebenarnya bisa ditungguin, tapi dokter nyuruh menunggu 3 hari baru diambil hasilnya. Pas itu dokter yang nge-biopsi aku sudah curiga kalau itu kuman TB. Tapi masih belum pasti.

Tanggal 19 maret hasilnya jadi dan ... aku kena "Radang khronis granulumatik tuberculosa dengan kuma BTA positif". Mama syok, aku masih tenang aja. Waktu itu aku masih enggak membayangkan kalau bakalan seberat ini perjuangannya. Aku cuma tahu kalau disuruh minum obat terus tanpa putus. Dokter menyabarkan diriku sama mama. aku masih...santai aja... hingga masa pengobatan awal dimulai...

Bulan April dan Mei



Dua bulan pertama pengobatan adalah masa terberat dalam pengobatan TB. Obat yang harus kukonsumsi ada 4 jenis dan itu harus diminum sekaligus pada jam 10 malam.

(awalnya dikasih obat segede kacang warnanya merah yang merupakan gabungan dari 4 obat. tapi aku kesulitan minum karena efek psikologis takut sama obatnya yang segede itu dan enggak kuat sama efek obatnya. Mual muntah duh enggak karuan lah pokoknya.

obat gabungan. gak kuat sama efeknya

Akhirnya dokter nyuruh aku ganti obat jadi 4 obat protolan gitu deh. FYI, obat TB yang merah itu gratis ya teman-teman karena termasuk dalam program pemerintah. Tapi karena aku ganti jadi obat protolan, jadi... ya bayar. hehehe).

obatku yang protolan. ada 4 jenis tapi beranak pinak

Obat protolan ini jumlahnya 4 obat. tapi kadang 1 obat takarannya 2 pil atau satu setengah pil. Jadi beranak pinak gitu. Hhhmmm

Berat banget di bulan ini. Mual muntah dan rasanya pengen mati. kesannya lebay ya? tapi entahlah...dua bulan awal aku suka marah-marah dan sedih gara-gara penyakit ini.

"kenapa harus aku?"
"kok bisa aku yang kena?"
"aku benci. aku ga suka obat itu"


wajahku...tiap kali mau kontrol

Denial banget, deh. Untungnya seluruh keluarga, teman-teman yang tahu soal ini dan daffa (pacarku) sangat mendukung proses pengobatanku.
Wajahku di dua bulan itu kayak kusam dan enggak ceria gitu. Entahlah mungkin aku merasa enggak bahagia saat itu. Mau hopeless dan mogok minum obat karena enggak tahan sama efek obatnya, tapi taruhannya...ya, kamu bakalan tahu berakhir seperti apa hidupmu.
Ngeri ya? Makin bikin psikologisku tertekan pas itu.

bahkan untuk minum obat, aku harus lihat kartun tayo dulu biar enggak tegang. IYA. HEY TAYO BIS KECIL RAMAH ITU. Selain nonton tayo, kudu nyiapin pisang (enggak bisa minum obat tanpa pisang. tapi sekarang jadi trauma dan benci pisang karena kebanyakan makan :()

persiapan tempur: air minum anget, pisang, kotak ijo jajan, kotak oranye obatnya

Untunglah dokterku orangnya sangat menyenangkan dan kocak. Jadi tiap harus kontrol itu sedikit bahagia rasanya. Aku berkeluh kesah soal sakitku dan dokterku selalu menyemangati.
Hal yang membuatku sedikit senang adalah...setelah dua bulan ini berakhir, kita bakalan ganti obat jadi cuma dua jenis aja. Jadi sudah enggak empat lagi. Yipiie!

Dan...selama dua bulan pertama ini aku sering enggak masuk kuliah. Soalnya muntah hebat dan badan lemas banget. Jadi selama dua bulan ini (btw itu semester 5 setelah UTS) aku jadi parasit gitu buat temen-temen aku. Minta tolong macam-macam. Alhamdulillah mereka sangat sangaaat pengertian banget. Aku bersyukur dan berdoa semoga mereka semua diberikan kelancaran dalam hidupnya.

Aku menyelesaikan semester 5 dengan tertatih-tatih, mencoba tersenyum, kadang ke kamar mandi kampus karena berasa mau muntah hebat. Selalu pakai masker karena takut dilihatin. Kadang pengen segera pulang buat nangis karena enggak nahan banget efek obat dan psikologisnya. Makin down setelah mama dan papa sepakat untuk menyuruhku cuti kuliah kalau keadaan enggak memungkinkan.

Bulan Juni dan Bulan Juli



Memasuki bulan puasa. Puasaku bolong-bolong karena mamaku memperingatkan untuk enggak memaksakan badanku puasa di saat seperti ini. Alhasil aku bolong banyak banget hmm.
Penderitaan mulai berkurang karena obatnya juga sudah tinggal dua butir (tapi tetap tiap hari hahaha). Pas itu kalau enggak salah juga sudah libur. Jadi aku bisa istirahat di rumah dan menyenangkan diriku sendiri.

daffa selalu menemani di rumah kalau akunya lagi kangen tapi lagi enggak enak badan

Kondisi badan mulai menyesuaikan, psikologis mulai sedikit membaik. Akhirnya aku mulai berani beraktivitas misalnya ngedate, keluar sama teman, hangout, main sama kucing-kucing, mulai bisa selfie jelek dan enggak jelas (hehe), bisa dandan lagi, pokoknya seru-seruan deh!
Terus kayaknya ini kuliah semester 6 (?). Mulai bisa kuliah dengan normal meski kadang gampang capek!

ditemenin daf kontrol

Dan ada satu masalah... KKN!

Dokter menyuruh supaya nanti KKN nya kalau aku dapat di luar surabaya, harus tuker. bener aja, aku dapat KKN di Banyuwangi, dong. Padahal asyik kayaknya di banyuwangi hehehe
Aku terpaksa tuker untuk bisa KKN di Surabaya aja karena masih dalam masa pengobatan dan kudu kontrol.

Aku tuker sama salah satu temanku, namanya Aisyah. Dia bersedia KKN nun jauh di banyuwangi.
Dikala teman-teman lain minta tuker ke luar surabaya, aku malah mencari cara supaya bisa dapat kkn di Surabaya :')

Aku terpaksa menceritakan penyakitku dan segala hal pengobatan ini ke teman-teman KKN ku. Aku menjalani KKN dengan perasaan senang. Saking serunya, kadang aku lupa kalau lagi sakit. Meski malamnya minum obat, aku enggak sabar menyambut pagi buat beraktivitas. Aku merasa kehidupanku sedikit normal kembali.


Aktivitas selama libur seperti ngedate, bikin artikel, dan KKN bisa bikin aku 'agak lupa' sama TB. Kayak pengalihan gitu, lho. Aku mulai bisa mengontrol emosiku dan enggak terlalu denial lagi soal sakitku. Sudah mulai menerima, badan juga sudah mulai menyesuaikan dengan obatnya

(btw yang dua bulan pertama itu, dokter 'mengutak-atik' kadar obat dan dicari kadar yang pas buat aku supaya nyaman menjalani pengobatan. kadang dikasih dosis segini, kalau enggak cocok langsung ganti. Dosis diturunin kadang dinaikin. Pokoknya dicari sampai cocok)

Bulan Agustus

Sudah mulai balik normal, kalau minum obat ya tinggal minum obat. kayak bebannya enggak terlalu kerasa. Bisa beraktivitas normal, ketawa ketiwi lagi, hangout sampai malam, dan sebagainya. Meski kadang kambuh tapi overall baik-baik aja, sih.

bahkan ikutan senam ibu-ibu komplek!

Makin hepi karena dokter bilang kalau tanggal 29 nanti jadi kontrol ku yang terakhir! Sudah enggak sabar lagi!
Bahkan mamaku kadang lupa kalau aku masih dalam proses pengobatan karena aku kelihatan normal. hahaha

tanggal 29 agustus aku ke RSI A Yani dianterin daffa karena mama keluar kota. Aku sudah enggak sabar untuk mengakhiri penderitaan ini. Sayangnya...
Ada satu hal yang bikin aku kecewa. banget. Pas aku masuk ke ruang si dokter, dokter memeriksa dan melakukan segala prosedur pengecekan. Intinya....

TERNYATA PENGOBATANKU BELUM KELAR. OBATKU MASIH KURANG.

sebelum insiden kekecewaan terjadi

Dokter akhirnya menambah lagi masa pengobatan sampai tanggal 17 september. Aku kecewa luar biasa. Keluar dari ruangan langsung nangis sesegukan di rumah sakit. Daffa berusaha menghibur tapi aku sudah terlanjur kecewa. Setelah emosi mereda, aku menelpon mama dan curhat mengenai kabar menyedihkan itu. Saking enggak moodnya aku, aku sampai bilang ke mama:

"mama aja yang cerita ke papa. bilango papa jangan tanya-tanyain aku dulu. lagi enggak mood" (hahaha)

Bener dong, pas pulang papa diem aja. Mama soalnya sudah bilang papa supaya enggak menanyakan hal menyedihkan itu ke aku. hehehe

Seluruh keluarga dan daffa menyuruhku bersabar dan berusaha memunculkan sisi positif dari kejadian ini. Oke, aku melanjutkan hingga tanggal 17 september datang.

Bulan september

Aku mulai santai menjalani sisa pengobatanku. Mulai beraktivitas seperti biasa. Bendolan juga sudah hilang tuntas.
Ada kabar menyenangkan juga dari IDN yang membuatku terlalu excited sampai 'melupakan' ketidaksabaranku untuk kontrol. Hehehe

Tanggal 17 september datang.

menunggu rontgen dengan wajah cemas

Aku ditemani mama untuk kontrol yang terakhir kali banget ini. Sebelumnya aku rontgen dulu untuk mengecek apakah masih ada sisa kuman di paru-paru. Aku dan mama agak cemas dan mulai berpikir

"apakah benar ini kontrol terakhirku? beneran sudah hilang kan?"

Akhirnya aku dipanggil untuk masuk ke ruang dokter. Setelah diperiksa semuanya, aku dinyatakan RESMI SELESAI PENGOBATAN TBC!

merayakan bareng cimit

Aku senang buanget! tapi karena masih ada sisa sebutir obat lagi, maka malam itu aku meminumnya untuk yang terakhir kali. Aku merayakannya dengan makan penyetan deket rumah sama mama. Heheheh

(BTW aku potong rambut pendek untuk merayakan kelulusanku dari pengobatan TBC!)

bunga dari daffa

Begitulah teman-teman cerita yang (enggak) singkat mengenai perjalanan pengobatan TBC kelenjarku!

Aku akan menjelaskan sedikit mengenai TB Kelenjar. sebenarnya sudah kujelaskan di snapgram tapi kujelaskan lagi supaya lebih jelas dan bisa dibaca oleh anda-anda semuanya! :)

Q N A about TBC kelenjar

1. TBC ada berapa jenisnya?
Macam-macam. Paling terkenal sih pasti TBC paru, ya. Soalnya tanda-tandanya paling kelihatan. Selain itu ada TB tulang, TB kulit dan TB kelenjar.

2. apa tanda-tanda TB kelenjar?
Ini nih. dia tuh tanda-tandanya ya cuma bendol itu aja. Enggak ada yang lainnya lagi. Jadi mengidentifikasinya juga agak susah kalau secara langsung. Kudu diperiksain dan dibiopsi.

3. Pengobatannya gimana?
nah ini yang penting.

  • Masa pengobatan TB itu minimal 6 bulan bisa sampai setahun tergantung seberapa parah TBC mu. Karena minimal, maka kamu enggak boleh berhenti di tengah jalan gitu aja apalagi sebelum 6 bulan.
  • Obat TB disebut dengan OAT. ada 4 jenis obat yang harus dikonsumsi. Tapi ada dua 'pilihan ' paket obat. Paket pertama itu yang dicampur semua sehingga jadi 1 kapsul besar (ini gratis dibiayain pemerintah) sedangkan yang paket protolan kayak aku juga ada (tapi bayar). Kalau yang protolan ya nanti jadi banyak banget gitu.
  • selama masa pengobatan, kamu akan minum dua obat yang berbeda. 2 bulan pertama obatnya akan berbeda dengan obat di 4 bulan terakhir pengobatan.Di dua bulan pertama kamu bakalan minum obat warna merah dan dibulan selanjutnya ganti jadi obat warna kuning. kalau yang protolan ya sama aja. tinggal dikurangin jadi dua obat aja yang dikonsumsi.

sumber gambar: amir-silangit.com
  • OBAT DIMINUM SETIAP HARI. Jangan sampai kelewatan sehari enggak minum obat. Jumlah obat harus dihitung dan jangan sampai kurang (kalau kamu muntah, harus diganti. pokoknya harus sampai masuk obatnya). Dan..kalau kamu muntah, kan berarti persediaan obat untuk hari berikutnya berkurang. Jadi kamu terpaksa harus kontrol lebih awal untuk ambil obatnya.
  • Kenapa kudu sampai minimal 6 bulan? karena kalau kamu berhenti di tengah jalan, kumannya bakalan kebal (ada orang yang merasa sudah baikan di bulan ketiga pengobatan, berhenti minum obat, terus kambuh dan lebih parah lagi)
  • Oh iya, obat tbc ada tiga kategori. ketika kamu pertama kali kena TBC, kamu mengonsumsi OAT kategori 1. kalau kamu lupa meminum obatmu, kan kumannya kebal. Sudah enggak mempan lagi dilawan sama obatmu yang kategori 1 itu. Alhasil kamu harus ganti obat kategori 2 (minum dan injeksi alias SUNTIK) tiap hari. Errr
  • Kalau kamu masih lupa lagi, kamu dialihkan ke kategori 3. Kalau lupa lagi? Yaa..wasalam. Pasalnya pengobatan TBC cuma sampai kategori 3 saja. jadi yaa.. enggak ada obatnya. Ngeri, kan?
  • Efek obat: mual muntah, kesemutan dan sebagainya. Kalau kata dokternya, tergantung golongan darahmu. Golongan darah A akan punya efek obat beda dengan golongan darah AB

efek samping obat

4. Menular enggak?
Kalau TB tulang, TB kulit atau TB kelenjar sih katanya enggak menular. TBC yang menularkan adalah TBC paru karena ketika batuk kan dia mengeluarkan kuman itu di dahaknya. Kalau kuman di TB lainnya kan kayak 'terperangkap' gitu. Tapi tetap harus waspada kalau berdekatan sama orang yang kena TBC.

5. Penyebab TB kelenjar?
Kita pastilah ketularan sama orang yang kena TB paru. Mungkin pas itu aku lagi ada di deket orang yang kena TB paru dan berkontak dengannya, terus ketularan deh.
Sebenarnya enggak langsung ketularan, sih. tapi kalau daya tahan tubuh lagi enggak bagus, kuman akan lebih mudah masuk. Pas itu mungkin daya tahan tubuhku lagi enggak oke, terus deketan juga sama orang yang kena TB paru. kena, deh!


6. Pencegahan?
Jangan lupa pakai masker soalnya kuman dimana-mana, minum vitamin (karena yang bisa kita lakukan adalah mempersiapkan tameng kita sekuat mungkin. Kita enggak bisa mengontrol 'serangan'. Apalagi serangan kuman!), pola hidup sehat, jaga kebersihan, dan berjemur! (berjemur di pagi hari sangat bermanfaat membunuh kuman)
Oh iya, kalau bisa bawa peralatan makan sendiri kalau makan di tempat yang mungkin kebersihannya kurang terjamin. ini penting!

Dan ini pesanku untuk kalian para pejuang TB, TB apapun itu:

Pengobatannya memang buerat banget. Aku aja sampai sekarang kalau ngebayangin obatnya masih pengen muntah. Meski mengerikan, tapi TBC itu bisa sembuh, kok. Obatnya jangan lupa diminum. Cari cara buat minum obat supaya lebih nyaman. Alihkan perhatianmu pada hal lain yang menyenangkan.
Setelah kita kena TB, kita jadi orang yang rentan untuk tertular lagi. Jadi, harap menjaga kesehatan dengan benar dan ubah pola hidupmu supaya lebih sehat, ya!

Buat kalian yang punya keluarga, kerabat, teman atau pacar yang lagi menjalani masa pengobatan TB, hibur dia. Motivasi dia supaya bisa terus menjalani masa pengobatannya. Percayalah, perjuangan mereka buerat banget.

Xoxo

Putri.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Kena Tipu Online Shop Palsu? Ini Langkah-Langkah yang Perlu Kamu Lakukan!

STNK Hilang? Asalkan Sabar, Pasti Bisa Teratasi.